Tuesday, January 17, 2012

Macma Students 2002 -2004


I dedicate this essay to Macma student/seekers in year of 2002 -2004 as listed below: Steven Lee, Linda Tan, Loh Boon Lin, Nur Nadhira Tan, Yap Aik Chuan, Diana Ooi, CK Chow, Arif and Nur Hidayah Wong....

The Fuqara Must Ask For Change-
By Shaykh Abdal Qadir as-Sufi

The du'a of the Muslim is, "O Allah, keep me in change." Keep me always changing because everything is changing and every day Allah is on a new creation.

You must be renewing and renewing yourself. You have to always be in change. You must remember that the company of the fuqara is the highest company. You must keep each other company. You must travel to other places where there are fuqara. You must sit with the fuqara in every place. You must be an example to them and take example from them when you meet people of quality. Seek the people of knowledge, seek the people of love of Allah, subhanahu wa ta'ala, and the people of love of Rasul, sallallahu `alayhi wa sallam. To take the adab of the great ones you have to sit with them, you have to sit with the people of knowledge. It is by your company that you are purified.

Tasawwuf is keeping company, then tasawwuf is listening, then tasawwuf is acting upon what you hear. There is only one enemy and that is your self. The nafs has nothing good in it. The worst of all things to the Sufis is the recognition of their own good qualities over and against that of other people – it is what sets them back and smashes them on the rocks of destiny. You must not look at your good qualities. You must consider them something that in themselves have been spoiled even by your being conscious of them. You do not look at your self.

You do not find fault with others, you find fault with your self.

You must look at your self and say, "What is wrong with it?" Harith al-Muhasibi went over his day, then went over his hours and then went over his minutes, then went over his breath until he had verified that it was pleasing to Allah, that it was acceptable to Allah. Two great `ulama met in Baghdad and they argued and fought with each other. At the end one of them said, "Let us meet tomorrow and discuss this matter further and the other one said, "No, let us meet tomorrow and make peace and forget all about it."

This is the way of the Sufis – to begin again.

You must not be limited in your forgiveness of the faults of others but you must not have any measurement of any attention to yourself. Any consciousness of your self you must turn from. You must turn away from the nafs and the method of turning away from the nafs is not a psychological method, it is dhikrullah. (Surat ar-Ra'd, 28 ) "Only in the dhikr of Allah can the heart find peace." You must do dhikr of Allah. You must remember Allah standing, sitting and reclining on your side. You must call upon Allah. You cannot afford to be out of the company of the people who love Allah for any amount of time in this age that we live in. You must be with the people who love Allah, you need them. You need the people of Allah because they will remind you of Allah. You need the people of knowledge because you have to be strong in your Deen and you have to be correct in your Deen in an age where every mosque has a different way of going into sajda, let alone the higher things of the Deen.

You must speak well of people and have a good opinion of people. You must become people of futuwwa, you must become these people who are spoken of because of the high aspiration, the high himma you have which is on a universal scale that when you go to the Ka'ba, with all the troubles that are there, you must lookfor the people of Allah there and sit with them. Beware of the people of dunya. Beware of the people of dunya until you are safe, and when you are safe it does not matter where you go. If you are not safe then you must be careful. You must have taqwa and you must have wara'. You must take care, take care, watch, until you are on Sirat al-Mustaqim because when things go wrong you have to remember that all you have got is then to turn to Allah, subhanahu wa ta'ala.

Remember, even tawba is nothing to do with you – it is because Allah has decreed for you tawba because He wants you, so even that is not yours, it is not your good achievement.

Your asking forgiveness is not your good achievement, it is simply Allah claiming you and you recognising that He has claimed you. You belong to Allah. You have come from Allah and you are going to Allah. This is what you have to tell yourself. You must not be hypnotised by dunya.

Remember that Rasul, sallallahu `alayhi wa sallam, indicated that the small coin of the poor person is as dangerous as the gold of the rich, so you must be generous. To be generous is to follow the way of Rasul, sallallahu `alayhi wa sallam. You must be generous, you must have a good opinion of other people, you must not say bad things about other people and if you do say them you must go back and clean it out and you must ask their forgiveness. If someone is totally against you and totally in the wrong then you have to forgive them and you have to forget it and you have to go back and put things right. This is how the Deen has always been. This is how these great men have lived in the past.

Tuesday, January 3, 2012

Prayer


O Allah,
Grant me compassion from You,
reestablishing harmony in my disorder
perfecting where I am lacking,

rectifying where I am deviating
restraining me when I am astray
and guiding me when I am perplexed.

- Shaykh Muhyiddin Ibn al-Arabi

Tuesday, December 27, 2011

Sunday, December 25, 2011

Lebih Dekat dengan Shaykh Umar Ibrahim Vadillo

oleh Zaim Saidi - Direktur Wakala Induk Nusantara :

Kehadiran kembali seorang Mursyid di Nusantara, yang datang dari Andalusia, melalui Afrika Selatan, telah membawa cahaya kembali ke wilayah ini.

Nama Shaykh Umar Ibrahim Vadillo mulai dikenal luas di dunia internasional pada awal 1990an. Ini dimulai ketika ia, sebagai pemuda berusia 28 tahun, mencetak kembali koin Dinar emas dan Dirham perak di Granada, Spanyol, pada 1992. Tindakan ini ia lakukan sebagai konsekuensi dari terbitnya Fatwa Haramnya Uang Kertas sebagai Alat Tukar yang ia terbitkan setahun sebelumnya, 1991. Fatwa itu sendiri ia terbitkan sesudah beberapa tahun mempelajari secara mendalam persoalan muamalat dan riba dalam syariat Islam.

Mengharamkan uang kertas, dan kemudian mencetak kembali koin emas dan koin perak? Bagi umumnya orang tindakan pemuda Umar ini, tentu saja, terlihat sebagai sebuah keasingan. Mengapa ia melakukannya? Paling tidak ada dua alasan mendasar.

Mengapa Uang Kertas Haram
Pertama, secara ekonomi politik sistem uang kertas adalah mekanisme perompakan yang dilakukan oleh segelintir orang atas semua orang lain yang menggunakan uang kertas tersebut. Namun demikian hampir tidak ada yang melihatnya karena perompakan ini dilakukan secara sistematis dan dilegalisir melalui undang-undang mata uang nasional atau Legal Tender Law. Makna dari sistem ini adalah pemberian hak monopoli kepada satu pihak, dalam hal ini Bank Sentral, untuk menerbitkan dan mengedarkan uang kertas, senilai dan sebanyak yang mereka suka. Seluruh warga negara kemudian diwajibkan untuk hanya menggunakan uang kertas bersangkutan sebagai alat tukar sehari-hari.

Akibat dari pencetakan uang kertas yang terus-menerus, dengan tanpa jaminan komoditas apa pun sebagaimana pada awal uang kertas itu diciptakan (uang kertas didukung oleh emas atau perak), adalah inflasi yang terus-menerus. Dalam kehidupan sehari-hari yang dirasakan oleh masyarakat adalah harga barang dan jasa yang terus-menerus naik. Tetapi, nilai tukar barang-barang sebenarnya tidaklah berubah, yang berubah adalah nilai tukar mata uang kertasnya yang terus-menerus merosot karena pencetakan dan perputarannya yang tak terbatas. Pencetakan dan peredaran uang kertas itu sendiri saat ini sepenuhnya berbasiskan kepada utang: uang kertas itu sendiri adalah 'uang kredit'. Inflasi, tidak lain, adalah pemajakan paksa yang dilakukan oleh perbankan kepada seluruh penduduk.

Bukan cuma itu. Sistem uang kertas, dengan motor penggeraknya sistem perbankan, karena tidak memiliki dukungan asset apa pun, di satu titik akan meledak. Hal ini secara matematis dapat diperhitungkan, hanya saat kehancurannya saja yang tidak dapat dipastikan. Tetapi, secara empiris, kita telah berkali-kali mengalaminya, yang belakangan disebut-sebut sebagai Krisis Moneter. Setiap kali Krisis Moneter terjadi, semakin besar dampaknya, sampai nanti tiba krisis lain, mungkin yang terakhir, yang meruntuhkan semuanya, hingga situasi tidak tertolong lagi.

Kedua, secara legal, dari sudut pandang Hukum Islam, sistem uang kertas tidak lain adalah sistem riba. Karena nilainya hanyalah sebesar nilai intrinsik kertasnya, yang tentu saja tak seberapa, dan penggunaannya yang dipaksakan, uang kertas melanggar beberapa rukun dan syarat dasar perdagangan. Pertama-tama Allah, subhanahu wa ta'ala, menyatakan bahwa dasar pertama perdagangan adalah suka rela, dan itu termasuk dalam pemilihan alat tukar. Dalam pertukaran suka rela ini barang yang dipertukarkan haruslah setara dengan setara. Artinya baik barang yang diserahkan maupun alat tukar yang digunakan harus memiliki nilai intrinsik. Syarat ketiga sahnya perdagangan adalah transaksi harus dilakukan secara kontan. Baik barang maupun alat tukarnya harus diserahterimakan pada saat yang bersamaan, tidak boleh salah satunya ditangguhkan.

Substansi uang kertas, sebagaimana sebelumnya telah dijelaskan secara ringkas, menjadikannya tidak dapat memenuhi ketiga syarat jual beli tersebut. Uang kertas, sebagai alat tukar, tidak bersifat suka rela, tidak memiliki kesetaraan nilai dengan barang yang dipertukarkan, dan tidak memberikan pembayaran tunai. Dengan kata lain, secara ringkas, uang kertas adalah riba. Dan di dalamnya terkandung sekaligus dua jenis riba, yaitu riba al fadl, yakni riba yang timbul akibat penambahan nilai yang tidak dibolehkan (dalam hal ini direfleksikan sebagai nilai nominal uang kertas) dan riba an nasi'ah, yakni riba yang timbul akibat penangguhan pembayaran yang dilarang (karena uang kertas adalah nota utang atas sejumlah harta tertentu, yang saat ini utang itu pun bahkan tidak lagi diakui oleh penerbitnya).

Sebelum Shaykh Umar menerbitkan fatwa haramnya uang kertas dan mencetak kembali dinar dan dirham sebagai konsekuensinya, sejak dua dekade sebelumnya, Shaykh Dr Abdalqadir as-Sufi, pembimbing Shaykh Umar, telah menyampaikan kepada dunia kritiknya atas sistem uang kertas yang tidak adil dan rapuh ini. Tapi kritik itu hanya sampai pada sedikit orang dan dari yang sedikit itu lebih jarang lagi yang memberi sambutan dengan baik. Di banyak kalangan dan tempat kritik ini bahkan sangat tidak populer. Sampai terjadilah Krisis Moneter yang melanda Asia pada 1997-1998 lalu. Satu di antara sedikit tokoh yang kemudian mendengarkan saran solusi atas persoalan mendasar sistem finansial modern ini adalah Perdana Menteri Malaysia saat itu, Dr Mahathir Mohammad.

Momentum demi Momentum
Sekitar sepuluh tahun kemudian, krisis moneter sejenis kembali terjadi, kali ini di jantungnya sendiri yaitu di AS dan Eropa. Dimulai pada akhir 2008, dengan persoalan gagal bayar pada kredit perumahan di AS, yang diikuti dengan kebangkrutan beberapa perusahaan finansial, seperti Lehman Brothers, dunia terus dibayangi bencana keuangan global. Sampai lewat pertengahan 2010 krisis keuangan di Eropa, dengan pusatnya di Yunani dan mulai menular ke Spanyol dan Portugal, membuka mata dunia akan kebenaran segala yang disampaikan oleh Shaykh Abdalqadir sejak dua tiga dekade lalu. Pengenalan kembali Dinar dan Dirham pun semakin luas diterima.

Momentum lain adalah kebijakan Negeri Kelantan, Malaysia, sebagai institusi pemerintahan pertama di dunia yang mengadopsi Dinar dan Dirham sebagai mata uang syariah. Negeri Kelantan secara resmi mendirikan institusi khusus untuk ini, yaitu Kelantan Golden Trade (KGT) Sdn. Bhd. YAB Dato Nik Abdul Aziz bib Nik Mat, Menteri Besar Kelantan, didampingi oleh Menteri Keuangan Kelantan, Datuk Husam Musa, meresmikan peluncuran Dinar Dirham Kelantan, 2 Ramadhan 1431 H lalu. Peresmian mata uang syariah ini ditandai dengan penerapan Dinar dan Dirham secara luas: untuk pembayaran zakat, transaksi jual beli, dan pembayaran gaji (mulai saat ini 25% gaji pegawai negeri Kelantan akan dibayarkan dalam Dinar emas). Pada tahap awal ini di Kota Bharu (ibu kota Kelantan), khususnya di Pasar Besar Siti Khadija, seribu pedagang telah menerima Dinar dan Dirham. Di belakang gerakan Negeri Kelantan itu pun, tidak lain adalah Shaykh Umar Vadillo, yang sejak 2009 menjabat sebagai CEO KGT.

Untuk memastikan bahwa ekonomi berbasis Dinar dan Dirham dapat berjalan secara universal, Shaykh Umar juga telah memikirkan sebuah mekanisme pengaturan. Untuk itu, sejak awal pencetakan prototipe Dinar dan Dirham, 1992, ia menginisiasi World Islamic Trading Organization (WITO) dan, belakangan, World Islamic Mint (WIM). Produk pertama yang dikeluarkan oleh WITO adalah standar teknis koin, yang didasarkan kepada standar yang dibuat oleh Khalifah Umar ibn Khattab, serta rancang muka koin-koin Dinar Dirham, yang saat ini dikenal sebagai Seri Haji, yaitu koin Dinar bergambar masjid Nabawi dan koin Dirham bergambar Masjidil Haram.

Di luar itu berbagai corak koin Dinar dan Dirham mulai muncul, seperti Seri Nusantara, sebagaimana yang diedarkan oleh WIN (Wakala Induk Nusantara), Indonesia, dengan Dinar bergambar Masjid Demak dan Dirham bergambar Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Cirebon. Terakhir adalah Dinar dan Dirham Kelantan tersebut di atas, dengan gambar simbol Negeri Kelantan, yakni dua ekor kijang, dengan mahkota serta senjata tradisional Kelantan. Meski belum ada sebutan resminya Dinar dan Dirham Kelantan ini dapat digolongkan sebagai Seri Pemerintah.

Maka, standarisasi teknis koin saja menjadi tak mencukupi. Ada persoalan otorisasi pihak pencetak dan pengedar koin. Penerapan Dinar dan Dirham secara internasional juga menimbulkan masalah standarisasi nilai tukar. Ini semua menjadi agenda World Islamic Mint (WIM) yang saat ini dipimpin oleh Bapak Abu Bakr Rieger, dari Jerman. Sebagai lembaga pengatur, WIM dilengkapi dengan Shariah Counselor, yang berperan mengawasi soal-soal hukum, yang saat ini dijabat oleh seorang imam dari Masjid Granada, Spanyol, yakni Haji Abdalhasib Casteniera.

Ringkasnya berbagai hal di atas menggambarkan apa yang dipikirkan dan dikerjakan oleh Shaykh Umar Vadillo adalah sebuah kelengkapan pengetahuan dan amal, konsep dan praksis. Dia adalah sosok seorang mujahid yang bukan saja tidak mengenal lelah, tetapi memiliki visi akan kemenangan Islam. Sebab, keyakinannya sepenuhnya dilandasi oleh sikap penyerahan diri secara total hanya kepada Allah, subhanahu wa ta'ala, kepada kalimat dzikir la haula wala quwwata illa billah, sebagaimana setiap kali ia sitir baik secara lisan maupun tulisan. Ia tidak mengenal adagium: Dawud melawan Jalut. Adagiumnya adalah ketika Kebenaran Datang, Kebatilan Musnah. Selama lebih dari dua puluh tahun terakhir ini Shaykh Umar tidak pernah berhenti dan diam. Dia terus bergerak, dalam berbagai bentuk tindakan, menulis, mengajar, mengerjakan, sambil menularkan semua itu kepada setiap orang. Ia tidak pernah membeda-bedakan orang, ketika berbicara dengan seseorang di pinggir jalan atau seorang kepala negara: ia melakukannya dengan isi dan bobot pesan yang sama. Dan dengan visi yang juga sama: kemenangan Islam, kembalinya 'amal Ahlul Madinah.

Karya Tulis dan Buku
Selain Dinar dan Dirham yang kini mulai diterapkan di mana-mana Shaykh Umar menghadirkan sejumlah pengetahuan kepada kita melalui berbagai karya tulisnya, baik berupa buku, risalah, artikel, maupun naskah pidato. Dua buku yang ia tulis pada awal 1990an adalah The End of Economics (1991), kemudian The Return of Islamic Gold Dinar (1996), dua judul buku yang merefleksikan perjalanan perjuangannya. Pada tahun 2003 sebuah bukunya yang lain, setebal hampir 1000 halaman, The Esoteric Deviation in Islam, diterbitkan. Buku ini membedah penyakit yang diderita oleh sebagian kaum muslimin sendiri, yang dalam kurun lebih dari 150 tahun belakangan ini, mengambil jalan yang keliru, yakni mengasimilasikan Islam kedalam kapitalisme.

Dalam buku ini Shaykh Umar mengatakan asimilasi adalah 'upaya [kaum] kapitalis untuk membawa Islam ke dalam pandangan dunia (world view) mereka,' yang dengan jelas dapat dilihat khususnya pada proses 'islamisasi segala segi kehidupan'. Dua pintu pertamanya adalah ide tentang politik (negara) Islam dan ekonomi Islam. Kata 'Islam' dipakai sekadar menjadi 'siasat pemasaran' yang ditempelkan di belakang berbagai pranata kapitalistik tersebut: partai Islam, negara Islam, parlemen Islam, demokrasi Islam, bank Islam, pasar saham Islam, kartu kredit Islam, reksadana Islam, MLM (Multi Level Marketing) Islam, dan seterusnya. Akibat dari islamisasi kapitalisme ini adalah semakin tidak dikenalinya model kedidupan sosial ekonomi Islam sendiri, yakni muamalat.

Kini dua dekade sejak tindakan pertama Shaykh Umar, mencetak prototipe Dinar dan Dirham (1992) itu, umat Islam mulai melihat pohon yang telah bersemai, meski buahnya belum sepenuhnya bisa dipetik. Bibit-bibit kembalinya pilar-pilar muamalat, Dinar dan Dirham, pasar-pasar terbuka, pedagang, dan kontrak-kontrak Islam, mulai bersemi di berbagai tempat, termasuk di Indonesia. Kesadaran umat Islam untuk kembali kepada model yang lebih genuine, yakni muamalat, dan bukan kapitalisme Islam, dan menuju kepada kemenangan atas sistem riba yang menindas, dan bukan tunduk di bawah ketiaknya, mulai hadir di seluruh dunia Islam.

Dengan itu Shaykh Umar terus bergerak. Dari Granada ke Istambul. Dari Istambul ke Rabat. Dari Rabat ke Kuala Lumpur. Dari Kuala Lumpur terus ke Jakarta. Dari Jakarta ke Kelantan. Dari Kelantan ia pergi ke Aceh. Dari Aceh ia akan ke Kesultanan Sulu, Filipina Selatan. Dari Sulu, entah bumi mana lagi yang Allah bukakan pintu untuknya, yang pasti akan ia datangi dengan riang hati. Dengan itu Shaykh Umar juga terus sambil menulis, mengajar, mentransmisikan pengetahuan dan keteladanan 'amal kepada setiap muslim yang ia temui. Pada awal tahun 2006, risalah bahan kuliahnya di Dallas College, Cape Town, diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia, Heidegger for Muslim dan Sisi Gelap Renaisans; bersama penulis lain yaitu Shaykh Abdalhaqq Bewley (Piramedia, 2006).

Tentang Kefaqihannya
Menjelang akhir 2006 Shaykh Umar kembali mengeluarkan sebuah fatwa penting, Fatwa on Banking and the Use of Interest Received on Bank Deposits (Fatwa tentang Perbankan dan Penggunaan Bunga Deposito). Ini adalah sebuah dokumen fatwa setebal 66 halaman ia tulis dengan cukup komprehensif. Fatwa ini memberikan panduan yang jelas atas kebingungan umat Islam dalam kenyataan sehari-hari yang masih tidak lepas dari urusan dengan sistem riba, yakni sistem perbankan. Terakhir, sebagai bagian dari yang ia lakukan di Kelantan, pertengahan 2010, Shaykh Umar kembali menulis sebuah fatwa, yakni tentang zakat, berjudul Fatwa on the Payment of Zakat: Using Dinar and Dirham the Issue of Ayn and Dayn in Zakat.

Fatwa tentang zakat ini sangatlah penting, sebab pengetahuan umat Islam tentang rukun zakat secara benar praktis telah hilang, akibat proses politik yang berlangsung dalam 100 tahun terakhir ini. Hilangnya Dinar dan Dirham, bersamaan dengan runtuhnya daulah Islam terakhir di bawah Daulah Utsmani, sejak 1924, telah mengubah praktek pengamalan zakat menjadi sedekah biasa. Dua rukun zakat yang roboh saat ini adalah keharusan penarikan zakat oleh sebuah otoritas Islam dan pembayarannya yang hanya bisa dilakukan dengan ayn (komoditas nyata), dan bukan dengan dayn (nota utang, seperti uang kertas). Fatwa ini mendudukkan kembali dua pilar tersebut.

Fatwa tentang zakat ini, sebagaimana dua fatwa lain yang ia terbitkan, yakni Fatwa tentang Pelarangan Uang Kertas sebagai Alat Tukar (1991) dan Fatwa tentang Perbankan (2006), sebagaimana disebut di atas, sekaligus menunjukkan kefaqihan Shaykh Umar Vadillo. Dalam sambutan yang diberikan pada saat peluncuran Dinar Kelantan, 2 Ramadhan 1431 H lalu, Shaykh Abdalqadir menyebutkan bahwa Shaykh Umar Vadillo adalah 'faqih nomer satu dalam masalah finansial' yang dimiliki dunia Islam saat ini.

Sebagai seorang faqih Shaykh Umar telah mampu 'membacakan' kembali, dan dengan itu memberikan pemahaman, bagi umat Islam dunia, pengetahuan yang telah dilupakan dan terkubur selama seratus tahun terakhir atas satu bagian yang sangat penting dari kitab Al Muwatta-nya Imam Malik, semoga Allah merahmatinya, yakni muamalat. Dalam salah satu tulisannya yang meskipun cukup ringkas, yaitu Ketetapan Hukum Uang Kertas, kita dapat menilai kefaqihan Shaykh Umar ini.

Menjelang akhir 2011 penerbit Delokomotif, Jogyakarta, tengah menyiapkan kumulan tulisannya menjadi sebuah buku, berjudul Jihad Melawan Kapitalisme. Berbeda dari buku-buku yang telah disebutkan sebelumnya, buku Jihad Melawan Kapitalisme ini tidak berasal dari suatu naskah yang memang disiapkan sebagai sebuah buku, tetapi berasal dari beberapa risalah, artikel, atau naskah pidato Shaykh Umar yang terpisah-pisah. Dua di antaranya adalah makalah yang ia sampaikan pada Konferensi Pemuda di Cape Town, 2005 (Rekonstruksi Muamalat Islam di Tengah Krisis Kapitalisme), dan Konferensi Internasional Fiqih, juga di Cape Town, 2008 (Prioritas Fiqih dan Muamalat). Selebihnya adalah tulisan yang dipresentasikan di berbagai kesempatan. Satu tulisan, yakni Jihad Melawan Kapitalisme, berasal dari wawancara Shaykh Umar dengan majalah Gontor, pada saat kunjungannya ke Jakarta, 2007 lalu.

Meski semula terpisah-pisah, himpunan tulisan ini secara keseluruhan ketika dibukukan memperlihatkan alur dan kerangka pemikiran yang solid dan sistematis. Semuanya menggambarkan rekonstruksi muamalat sebagai jalan keluar dari kungkungan kapitalisme, atau riba, yang menindas saat ini. Tetapi, lebih dari itu, buku ini mengalirkan semangat dan enerji perjuangan yang sangat menggugah.

Cahaya Kembali Bersinar
Pada saat Moussem 2011 di Kuala Lumpur, Haji Umar Ibrahim Vadillo, telah dikukuhkan sebagai seorang shaykh. Ini adalah hadiah besar bagi umat Islam di Nusantara, yang sejak keruntuhan Daulah Utsmani, yang diikuti dengan lenyapnya satu per satu daulah Islam di Nusantara, kehilangan panduan. Kehadiran kembali seorang Mursyid di Nusantara, yang datang dari Andalusia, melalui Afrika Selatan, telah membawa cahaya itu kembali ke wilayah ini. Seperti halnya tiga abad lalu cahaya itu datang dari Nusantara ke ujung selatan benua Afrika, juga melalui para Mursyid.

'Tugas utama Muslim di zaman ini adalah memerangi Riba. Caranya adalah dengan menegakkan kembali muamalat, perdagangan yang halal, penggunaan alat tukar Dinar emas dan Dirham perak, mendirikan pasar-pasar, mengamalkan kembali kontrak-kontrak bisnis menuruti sunnah, yaitu qirad dan shirkat,' demikian, antara lain, wejangan Shaykh Umar Ibrahim Vadillo kepada murid-muridnya.

Riba adalah kezaliman terbesar zaman ini. Ia juga menegaskan bahwa semua upaya ini hanyalah demi kecintaan kita kepada Allah Ta'ala dan Rasulullah salallahualaihi wasalam. Kalau kalian mengikuti saya, muamalat akan kembali tegak, ujarnya lagi.

Peristiwa pengukuhan Shaykh Umar Vadillo, orang yang pertama kali mencetak kembali Dinar emas dan Dirham perak di kurun mutakhir ini, mengikuti jejak Khalifah Umar ibn Khattab yang mengukuhkan standarnya, di sebuah masjid bernama Masjid Umar ibn Khattab, di Kuala Lumpur, adalah hadiah besar bagi umat Islam Nusantara. Semoga Allah Ta'ala meninggikan ilmu dan maqam Shaykh Umar Vadillo. Semoga Allah Ta'ala memberikan kita semua kesempatan untuk terlibat, dan menikmati, tegaknya muamalat di bumi Nusantara.

Tuesday, December 6, 2011

Muslimah Sister Jung Chuang From Taiwan

Note: May Allah bless her with the sweetness of iman, perfection of ihsan and reward of islam in this world and next....

As a norm, invited several participants from various member organizations to attend Islamic held at (IIUM). Among the participants who took part in our last was Sis Chuang, Jung, better known as Lo’ Lo’, a from Republic of China. She is a rare convert from to join the course.

During a one-month course, held in October, Sis Lo’ Lo’ , 24, a graduate of Arabic language from National Chengchi University, , came to Malaysia with full commitment to learn more about Islamic teachings especially Qur’an reading, daily prayer, fasting and Haj. She also interested in animal slaughtering as prescribed by . She was an outstanding participant with self-confidence, cheerful and of course studious. She is interested to learn more on Al Qur’an and hadith.

It is interesting to note here that while she was a third year student at the university, Sis Lo’ Lo’ took the time to attend a one-year Arabic language course in Syria, when asked why, she said that was the way to pick up Arabic language faster and more effectively when you learned from the native speakers. After a year in Syria, she returned to Taiwan to continue her final year and of course she did well with excellent result in examination. Her achievement stunned her classmates.

When asked what made her to become a Muslimah, Sis Chuang Jung said that while in Syria mingling around with Muslim friends she was always curious to see how observed their religious rites especially the daily prayer at mosque and the way they believe in One God. She was impressed by the way pray to their God. To her, such practices are very simple and felt that something in her mind guided her towards the right path and to believe in One God. Then she started reading about Islam and discussed the matters with friends. To her, Muslim friends and Islamic literatures were the source of inspiration for her to believe in Oneness of God. With the Grace of Allah (swt) and her powerful mind, she made a decision to embrace Islam and declared herself a Muslimah. She was confused and excited at the beginning of her life as a Muslimah, but soon she can cope with the new situation and found peace at last.

Back home, she explained the matters to her parents who are non-Muslims with respect and love. Her parents accepted her explanations and respected her right in choosing her own religious belief and the way of life. They live together as a happy family in Taipei, Taiwan.

Being a Muslmah, she continues to study and conduct a research on Islam particularly on the Unity of God (Tawhid), Hadith, Fiqh, Qur’an reading and history of Islam. She promised to attend RISEAP course again in the future, if invited, Insha Allah.

Tuesday, September 13, 2011

200 Years To Print Paper Money of US 9.0 Trillion



This review is from:
The Death of Money:
How the Electronic Economy Has Destablized the World's Markets and Created Financial Chaos (Paperback) -Joel Kurtzman 1994
This book was written 11 years ago, so some of its information is dated, but its basic premise has only become stronger: that the nature of money has changed from a tangible medium of exchange (i.e., cash) into a complex and chaotic system of computerized balance sheets and numerical flows.

The Federal Reserve estimates today that the entire worldwide supply of US money is currently about 10 trillion dollars ($10,000,000,000,000). This includes cash, savings accounts, checking accounts, money market funds, and other kinds of bank deposits.

But only 700 billion (or 7%) of these dollars are paper cash dollars circulating outside of bank vaults, of the sort you can carry in your wallet. If everybody wanted to cash out their bank accounts at the same time, there simply wouldn't be enough paper dollars to go around. Banks would have to close temporarily while the Federal Reserve printed more cash.

I don't know how long it would take to print 9 trillion more paper dollars ... let's see, the Bureau of Engraving and Printing typically prints $40 billion per year, so at current production levels it would take over 200 years to print all the cash required if everybody demanded all their cash at the same time.

The kind of money you can hold in your hand is pretty much obsolete.

....viva Dinar and Dirham as anti-dote.....to the paper manipulated money,not even cash.

Saturday, September 3, 2011

We Are Cheated Since 2008 By Derivatives


A 70 Trillion Dollar Counterfeiting Ring (Zeus Y., September 23, 2008)


According to several sources the market for so-called “credit default swaps” last year alone was nearly equal to the total global GDP, around 70 trillion dollars by some estimates. Yet these derivatives have no discernible “origin” or value. People aren’t sure whether they are capital vehicles, insurance vehicles, investment vehicles, all three, or none of the above. However, what is becoming very clear to me is that they, along with many of the other “creative” financial vehicles are nothing more than a bold mass counterfeiting scheme based on a very simple premise and set of conditions that are not at all “complex.” The problem is not that their values are “unknowable,” but that we know what their value is—worthless. Our problem is that we’re not willing to contemplate socially or personally the ramifications of what we know. This is why big lies work-- the bald truth is harder for most to bear.

What if you used cash to pay your groceries, and you found out the money was phony? You provided of labor, goods, etc. and you got worthless paper in return. You offered something that had real value in return for something you thought had value but did not. Either you swallow the rip-off and lose real value or someone covers for you—the government, insurance etc. What happens if this worthless scrip you receive takes the form of digital funny money, concocted out of thin air, without any real assets or capital to back it up? What happens if the global market for this worthless scrip exceeds the world’s GDP? Oops, there is no one who could possibly cover that. No bailout can buy up tens of trillions of dollars of counterfeit currency or phantom assets.

If I promise to ensure you against loss, and I have no actual resources to back it up other than a contract that says I will, I have produced a counterfeit document. My promise has to be backed by an ability to pay, and I don’t have it. What I have is phony assets, “marked to model,” acquired by selling my guarantee off to someone else, who in turn does the same. I take your money and leverage it into risky investments including more exotic vehicles that have no value, but that I think/pretend have value. This is not gambling. This is simple theft. In gambling, money comes and goes, but is essentially conserved somewhere. In this system of massive counterfeiting, I do the equivalent of flooding the monetary system with fraudulent promissory notes, passed off as assets, while skimming off huge fees with each transaction.

Yes, debt has now magically become an asset because it can ostensibly generate interest payment income and fees. So we lower the monthly minimum on credit cards and jack up the interest rate to keep up the charade of huge returns. We allow negative amortization. We promote “balloon payments.” There is no real value there BY DESIGN. There can’t be. No one can possibly pay off a mortgage that is ten times their income with a principal that actually increases over time. But if you can pass off the personal or institutional liability (there is no risk here; risk assumes some possibility of solvency) you may be able to “escape” accountability and profit from this scam. As a system, however, this will inevitably fail, and as we are seeing with both ecological and financial environments that we are all part of a system where even externalized liabilities will return to bite us.

What happens when a country floods its own monetary system with currency or makes money far too cheap through low interest rates. At first rampant inflation in things like stocks or house prices, as demand for goods is driven up. Anyone can buy anything with his or her own credit leverage and a lack of fear of consequences. Then devaluation and deflation emerge as fundamentals catch up, followed by a liquidity crisis due to exposed (fraudulent) leverages— leverages which have an essentially infinite multiplication of pseudo value in exotic financial vehicles. What happens when you flood the global market with toxic debt that far exceeds the ability of any country, and even consortiums of companies or countries to address the issue?

You have a global meltdown, or you try to stave off the inevitable reckoning with 700 billion dollar band-aids that have within their conduct of use no provisions for transparency, because that transparency would expose the far deeper and more widespread fraud under the symptoms. (This is all, of course, to help with an orderly “unwinding” of fraudulent assets.) In the end what you will see, no matter the route, is worthless garbage.

Now our Master Izi posed this question : " Modern man lost their value once they abandoned, denied, rejected, cover up or changed God's true measures of Divine message and laws... now everything is measured by free market values...will eventually debase and destroy humanity in an unjust usurious system . Or call it nihilism, humanist atheism, capitalism, democracy...long gone.... happy are the strangers who found the Way still alive and open.."